KIMPRAGAAN.COM, PRAGAAN – Menghadirkan Koordinator Penyuluh Pertanian Kantor Kecamatan Pragaan Nur Hasan Syaifullah, Tim Penggerak PKK Kecamatan Pragaan dan Desa memberikan pendidikan cara menanam tanaman hidroponik.
Nur Hasan menjelaskan bahwa saat ini dunia pertanian sudah semakin modern, tanaman tak hanya ditanam ditanah tetapi juga sudah menggunakan media hidroponik.
“Saat ini kita sudah masuk pada revolusi bertani tanpa tanah,” ungkapnya, Ahad (23/11/2025).
Bagi ibu ibu yang gemar bertani, sebutnya, kalau tak punya pekarangan yang signifikan untuk bertani, solusinya bisa menggunakan media hidroponik untuk tanaman sayur, maupun buah.
Hidroponik katanya adalah media tanaman alternatif yang mampu tumbuh dengan bagus tanpa menggunakan media tanah.
Media hidroponik yang umum digunakan antara lain rockwool, cocopeat, arang sekam, hidroton (kerikil tanah liat), dan pecahan batu bata atau genting. Selain itu, media seperti pasir, zeolit, dan sekam bakar juga dapat digunakan, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan media lain untuk mengoptimalkan drainase dan aerasi.
Keunggulan hidroponik, katanya bisa menggunakan hemat air, pertumbuhan cepat dan kualitas tinggi, bebas hama, lokasi fleksibel.
“Kelebihan hidroponik antara lain penggunaan air yang lebih efisien, hasil panen lebih cepat dan melimpah, tidak memerlukan lahan luas, serta tanaman bebas dari hama dan gulma sehingga lebih sehat dan bebas pestisida,” jelasnya.
Metode ini, katanya juga memungkinkan kontrol nutrisi yang optimal dan bisa dilakukan sepanjang tahun di berbagai lokasi, termasuk perkotaan.
Sistem hidroponik yang umum digunakan meliputi Nutrient Film Technique (NFT), Deep Water Culture (DWC), Drip System (Irigasi Tetes), Ebb and Flow (Sistem Pasang Surut), Aeroponik, dan Wick System (Sistem Sumbu).
“Setiap sistem memiliki cara kerja yang berbeda dalam mengalirkan larutan nutrisi ke akar tanaman,” jelasnya.
Menurut santri alumni Annuqayah ini menjelaskan bahwa hidroponik saat ini berkontribusi pada ketahanan pangan dengan memungkinkan produksi pangan segar di lahan terbatas, hemat air, dan bebas pestisida.
“Sistem ini juga memungkinkan panen yang lebih cepat dan konsisten sepanjang tahun, meningkatkan kemandirian pangan, dan menciptakan peluang ekonomi tambahan.” Ungkapnya. (sny-zbr)








