Jaddung, 12 Maret 2026
PUASA BUKTI KEIMANAN
Asy’ari Khatib
Beberapa hari lagi Ramadan akan melepaskan kita. Bulan suci ini merupakan momen spesial untuk me-resign diri. Men-delete sampah-sampah busuk dari perangkat ruhani kita selama setahun suntuk. Sabda Nabi, “(Puasa) Ramadan adalah penebus dosa-dosa kecil sejak Ramadan sebelumnya.” Lebih dari itu, Ramadan juga momen untuk me-refresh semangat kita untuk terus berbenah menjadi lebih baik.
Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa (Ramadan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (al-Baqarah: 183). Dalam ayat ini, yang diseru oleh Allah untuk melakukan puasa adalah orang-orang yang beriman. Yang diseru bukan seluruh umat manusia. Juga bukan kaum muslim. Tetapi kaum mukmin. Ini membuktikan bahwa keimanan dan puasa memiliki hubungan kausalitas yang bertimbal baik. Seolah secara tersirat Allah ingin berfirman, “Wahai kaum mukmin, buktikan keimanananmu dengan menunaikan perintah puasa!”
Iman saja tidak cukup. Iman harus dibuktikan. Harus ditunjukkan lewat perilaku. Artinya, untuk menjadi mukmin yang sebenarnya, kita tidak cukup hanya dengan mengakui, mempercayai, dan meyakini dalam hati bahwa Allah adalah Tuhan kita. Iman harus dibuktikan lewat tindakan nyata, yaitu dengan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan yang kita yakini dalam hati dan menjauhkan diri dari apa yang dilarang-Nya. Dan, salah satu perintah-Nya itu adalah puasa. Itulah kenapa di ujung ayat di atas Allah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah “supaya kalian bertakwa”.
Siapakah orang yang bertakwa? Allah menjawab, “ (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan, beriman terhadap al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum kamu, serta meyakini kebnaran akhirat” (al-Baqarah: 4-5). Tampak jelas di sini bahwa yang disebut orang yang takwa adalah mereka yang lahir dan batinnya berpaut kepada Allah. Hatinya beriman lalu dibuktikan dalam bentuk tindakan. Iman dan tindakan menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kebertuhanan kepada Allah.
Makanya Rasulullah menyebutkan bahwa iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih tingkatan. Paling tinggi adalah mengucapkan ‘Lailaha illallah’, paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Yang tertinggi berhubungan dengan perilaku hati, yang terendah berhubungan dengan perilaku jasmani. Seakan-akan Rasulullah ingin mengatakan bahwa jika ada orang yang hatinya mengucapkan lafaz ‘Lailaha illallah’, namun ketika matanya melihat duri di tengah jalan tidak ia singkirkan, ia tidak mempunyai bukti bahwa ia orang beriman.
Paparan di atas menunjukkan bahwa Allah menginginkan keimanan kita bukan sekadar ornamen yang menghiasi hati. Bukan sekadar merasa nyaman beriteraksi ruhani dengan Allah. Sebaliknya, Allah menginginkan keberimanan kita kepada-Nya berdampak pada kehidupan nyata. Keimanan kita mestinya memperindah perilaku dan tidakan kita dalam berinteraksi dengan makhluk-Nya, baik manusia, hewan, maupun alam semesta. Tidak menyakiti dan tidak merugikan makhluk Allah di sekitar kita. Malah sebaliknya, perilaku dan tindakan kita mestinya menebarkan manfaat bagi yang lain, memberi kenyamanan dan ketenangan, serta memberi cahaya untuk bersama-sama mereka mendekat kepada Allah dengan cara menerapkan prinsip-prinsip yang telah Dia tetapkan untuk kita semua.
Puasa, sebagai bukti dan implementasi keimanan mestinya juga memberi dampak sosial yang nyata. Menanamkan rasa empati dan simpati kepada sesama. Membangun sikap peduli terhadap penderitaan orang lain. Dengan cara demikian, puasa kita akan menjadi praktik ibadah yang tidak hanya berbingkai ritual, tetapi juga berdampak sosial. Tidak hanya bersimpul kepada Tuhan (hablun minallah), tetapi juga berantai pada sisi-sisi kehidupan bermasyarakat (habun minannas).
Semoga puasa kita memiliki kualifikasi demikian sehingga kita bisa berharap akan termasuk salah seorang dari mereka yang dirindukan surga sebagaimana disabdakan Nabi, “Surga itu rindu pada empat golongan, yaitu orang yang suka membaca al-Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang suka memberi makan pada orang-orang lapar, dan orang yang berpuasa pada bulan Ramadan.” Keempat-empatnya merupakan aktivitas yang berintegrasi dan bersinergi dalam satu bulan Ramadan yang sedang kita jalani ini. Amin!
Jaddung, 12 Maret 2026








