KIMPRAGAAN.COM, LUMAJANG – Disela makan malam, Pengurus Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Pragaan meyempatkan diri untuk sowan sesepuh IAA Lumajang yaitu almukarram Kiai Musyaffak.
Warga Lumajang mengenang beliau Kiai Musyaffak Bin H Abdul Hamid. Usia beliau saat ini sudah di angka 86 tahun, tapi masih terlihat segar dan ramah. Beliau mengaku mondok di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee saat kepengasuhan Kiai Basyir Abdullah Sajjad periode awal.
“Saya berteman dengan KH. Baihaqi Syafiuddin, K Musyaffak,” ucapnya mencoba mengingat masa lalunya, Sabtu (18/04/2026).
Beliau bercerita bahwa beliau mondok ke Annuqayah sekitar tahun 1952, ada di daerah Latee. lulus madrasah muallimin di Annuqayah beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Jombang Peterongan. Namun hanya satu tahun di Jombang beliau pulang karena situasi politik nasional yang tidak kondusif karena ada peristiwa PKI tahun 1965.
Ditanya perihal Kiai Basyir gurunya, beliau mengatakan Kiai Basyir gurunya sebagai pribadi yang alim, shaleh, santun dan selalu tampil sederhana dan biasa-biasa saja, tak ada yang aneh-aneh. Kiai Musyaffak mengenang juga bahwa beliau berada di Annuqayah masih berjumpa dengan kiai sepuh Annuqayah yaitu Kiai Ilyas Syarqawi. Beliau saat ini sudah ada di Lumajang dan menetap sudah lama sekali.
“Disini saja saya sudah 56 tahun. Asal di desa Jaddung Kecamatan Pragaan,” tambahnya.
Sebagai alumni Annuqayah beliau dikenal banyak merintis masjid dan lembaga pendidikan di desanya. Selain merintis berdirinya masjid yang kini ditempati pertemuan IAA, beliau dikenal juga menjadi perintis berdirinya MI Dakwatul Khair, MTs dan MA Wahid Hasyim yang sekarang sudah berkembang pesat namun tempatnya tidak satu lokasi dengan masjid yang ada sekarang.
“Dulu masjid ni ngumpul dengan MI-nya,. Sekarang sudah berkembang pesat ada di tempat berbeda,” jelasnya.
Bahkan tak hanya masjid yang berdiri kokoh ini, setidaknya masjid yang telah dirintisnya sudah ada tiga masjid.
Meski sudah berumur tapi beliau masih terlihat sehat karena selalu menjaga kesehatan.
“Setiap pagi pergi ke pasar. Di pasar itu saya ditabrak kendaraan, patah tulang tapi sudah sembuh, saat makan malam jatuh dan belum sembuh sampai sekarang,” katanya.
Beliau merasa senang dengan kunjungan ikatan santri Annuqayah Pragaan, baginya ini lah silaturrahim yang harus terus dijaga agar ada ikatan batin antar santri untuk memperjuangkan nilai-nilai ke Annuqayahan. (zbr)








